Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Pertemuan Sarwo Edhie - Ilham Aidit
Catatan Redaksi: Untuk melengkapi liputan Fokus kali ini, Redaksi
Indiependen menampilkan kembali artikel yang ditulis Bersihar
Parmonangan Lubis beberapa tahun lalu, sebagai ‘serpihan’ sejarah yang
–mungkin— tak banyak diketahui masyarakat.
Inilah kisah pertemuan dua anak manusia yang terpaksa harus berdiri berhadapan dengan latar belakang berbeda yang penuh dengan pertumpahan darah, akibat perbedaan ideologis yang dimanipulasi oleh motif ambisi kekuasaan tanpa mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Yang seorang jenderal pasukan khusus TNI AD Sarwo Edhie (Mertua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) dan yang muda anak dari Ketua Umum CC PKI DN Aidit.
Bagaimana kisah mereka, silahkan diikuti berikut ini:
JANTUNG anak muda berumur 22 tahun itu berdebar. Sebentar lagi ia akan bertatapan mata dengan Jenderal Pur. Sarwo Edhie, mantan Komandan Resimen Para Komando TNI Angkatan Darat (RPKAD) –kini Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Ia tahu siapa Sarwo Edhie dalam gemuruh aksi pengganyangan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965-1966 silam.
Tentu saja ia tahu setelah dewasa, karena saat tragedi berdarah itu ia masih berumur enam tahun. Kisah ini terjadi pada 1981. Dan anak muda itu adalah seorang di antara kader Wanadri, sebuah kelompok pencinta alam di Bandung.
Selaku inspektur upacara, Sarwo Edhie hendak melantik mereka yang lulus sebagai anggota Wanadri. Sarwo tahu bahwa seorang di antaranya adalah Ilham Aidit, putra Dipa Nusantara (DN) Aidit, gembong PKI.
Ilham berada di baris kedua, dan beberapa detik lagi gilirannya berhadapan langsung dengan Sarwo Edhie. Saat Sarwo menyalami dan menepuk bahu Ilham serta melihat namanya di kemeja di bagian dadanya, sejenak kemudian Sarwo memeluk Ilham.
“Selamat, kamu telah berhasil menyelesaikan pendidikan,” kata Sarwo. Dari 72 orang kader Wanadri, hanya Ilham yang dipeluk Sarwo. Hanya mereka berdua yang tahu apa makna pelukan itu.
Saya kira, peristiwa antara Sarwo dan Ilham adalah sejenis rekonsiliasi antara dua anak bangsa. Karena dengan nama Sarwo dan DN Aidit orang akan ingat tragedi Gerakan 30 September 1965 yang menewaskan beberapa jenderal TNI AD terbaik.
Orang akan ingat pengumuman Dewan Revolusi yang mengkudeta kepemimpinan Presiden Sukarno, tetapi kemudian berhasil diamankan oleh Jenderal Soeharto.
Sejak awal Orde Baru, publik diberi tahu bahwa dalang peristiwa itu adalah PKI, seperti versi pemerintah RI. Namun sejak era reformasi berbagai versi berseberangan bermunculan dan menambah pengetahuan publik tentang masa lalu yang hitam itu.
Tiga tahun kemudian, 1984, Ilham bertemu lagi dengan Sarwo Edhie. Wanadri kembali mendidik anggota baru. Kali ini Ilham sebagai komandan operasi dan Sarwo Edhie sebagai inspektur upacara.
Upacara dimulai pukul 07.00 WIB. Tapi pukul 06.00 WIB Sarwo sudah datang. Sarwo memanggil Ilham dan mengajaknya berjalan ke balik sebuah tebing di Kawah Upas, Gunung Tangkuban Perahu. Ilham gugup dalam pertemuan 10 menit itu.
Saat itu, Sarwo berkata bahwa dirinya hanya melaksanakan tugas dan kewajiban pada 1965 silam yang diyakininya benar. Tapi setelah peristiwa itu, kata Ilham, Sarwo sadar bahwa yang dilakukannya itu salah. Ilham terpana.
Sarwo mengulurkan tangan, dan tangan Ilham gemetar. Mereka bersalaman, dan berpelukan seperti tiga tahun silam.
Ilham masih ingat betapa suara Sarwo bergetar. Setelah itu, barulah ia menyadari betapa kabut pagi Kawah Upas yang hening sangatlah dingin. “Saya memahaminya. Dan saya bisa memaafkan. Itulah kejadian paling penting dalam hidup saya,” kata Ilham.
Sejak itu, Ilham makin sering bertemu dengan Sarwo Edhie. Selain sebagai anggota kehormatan Wanadri, Sarwo juga adalah narasumber dalam pelatihan untuk esprit the corps untuk kalangan Wanadri. “Saya makin mengerti beliau adalah seorang yang sangat setia kepada korps,” kata Ilham.
Kisah barusan tak banyak diketahui publik. Mungkin, hanya faktor Dewi Fortuna saja jika Ilham berkenan menceritakannya kepada majalah tempat saya bekerja, Medium yang tidak lagi terbit sejak awal 2006 lalu. Sebagian dari bahan dan catatan tersisa, saya tulis lagi mungkin siapa tahu ada gunanya.
Mengenang sejarah tentu penting, walaupun lebih penting lagi bagaimana menyelesaikan bengkalai sejarah itu, tanpa perlu menghujat kanan kiri.
Sikap yang mau benar sendiri hanya akan kontraproduktif terhadap ikhtiar rekonsiliasi yang dicoba dijelmakan dalam UU KKR (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi).
Sebelum pemilihan presiden putaran terakhir pada 2004 lalu, Ilham mengikuti silaturahmi yang digagas oleh dai kondang Aa Gym, dan bertemu dengan calon presiden Susilo “SBY” Bambang Yudhoyono.
Ilham datang bersama teman-temannya dari Forum Silaturrahmi Anak Bangsa (FSAB) yang terdiri dari anak-anak korban G-30-S, DI/TII, dan sebagainya.
Dalam pertemuan di pesantren Daarut Tauhiid di Gegerkalong Bandung itu, juga hadir mantan gubernur dan mantan Pangdam Silliwangi, Solichin GP. Saat itu, Solichin mengisahkan kembali peristiwa 1965-1966 di Jawa Barat. Walau dekat dengan Jakarta, korban di Jawa Barat tidak lebih dari 20 orang. Padahal jumlah korban sangat berjibun di Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan daerah lainnya.
Pangdam Siliwangi, Ibrahim Adjie ketika itu mengikuti instruksi dari Presiden Sukarno untuk tidak melakukan aksi pembantaian terhadap anggota PKI. Orang-orang PKI ditangkap tapi tak dibantai.
Ilham kala itu diungsikan ke Bandung dan menjadi murid SD Hidup Baru. Ia ingat kerap dihina temannya yang tahu ayahnya adalah DN Aidit. Saat masuk SMP Aloysius Bandung, ia sering berkelahi karena bapaknya dinista, dan Ilham selalu kalah. Masa SMA ia pindah ke SMA Kanisius Menteng Jakarta Pusat, dan kebetulah ibu asuhnya adalah sahabat baik istri Jenderal Abdul Haris Nasution.
Ia mulai sering diskusi dengan Ibu Nasution, dan mulai mengerti tak semua cerita tentang ayahnya benar. Sejak itu ia makin tegar menghadapi reaksi publik, hingga menjadi mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Parahyangan Bandung jurusan Arsitektur pada 1979 lalu.
Dalam pertemuan dua tahun silam itu di pesantren Aa Gym, Ilham membisiki SBY tentang pertemuannya dengan Sarwo pada 1981 dan 1984 silam. SBY memberi respons positif.
“Dengan tangannya yang besar, dia (SBY) memegang paha kiri saya dan dia bilang kita harus menyelesaikan masa lalu, namun dengan cara yang arif,” kata Ilham.
Ketika itu, SBY yang berbaju batik dan berpeci diapit oleh Aa Gym yang bersorban dan Ilham yang mengenakan kemeja lengan panjang.
Sekarang, Presiden SBY cenderung menebarkan ide perdamaian, baik dalam komentarnya tentang kasus Lebanon, Palestina maupun domestik. Pemerintahannya pun berhasil menunaikan perdamaian di Nanggroe Aceh Darussalam setelah Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ditandatangani di Helsinki, Finlandia. Jika SBY ikut dicalonkan sebagai penerima Nobel Perdamaian, akan semakin lengkap jika rekonsiliasi antar anak bangsa, termasuk masalah PKI bisa tunai dengan segera. Kita tak harus terus-terusan disandera masa lalu, sehingga tersendat dalam melangkah menuju masa depan.
Rekonsiliasi antar-pribadi sudah banyak berlangsung.
Sebelum menikahi Yuyun, Ilham memberi tahu calon mertuanya yang juga seorang prajurit TNI, bahwa ia adalah anak DN Aidit. Sang calon mertua kaget, dan diam seribu bahasa. Beberapa detik kemudian, sang calon mertua mengalah, dan merelakan Yuyun dinikahi Ilham.
Kasus G30S-1965, bukanlah kasus antar-personal. Tetapi masalah bangsa dan negara yang harus diselesaikan secara kenegaraan pula.■
Oleh: Bersihar Lubis
wartawan senior, tinggal di Medan
(Sumber: www.theglobal-review.com/content.detail.php?lang=) www.indiependen.com
Inilah kisah pertemuan dua anak manusia yang terpaksa harus berdiri berhadapan dengan latar belakang berbeda yang penuh dengan pertumpahan darah, akibat perbedaan ideologis yang dimanipulasi oleh motif ambisi kekuasaan tanpa mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Yang seorang jenderal pasukan khusus TNI AD Sarwo Edhie (Mertua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) dan yang muda anak dari Ketua Umum CC PKI DN Aidit.
Bagaimana kisah mereka, silahkan diikuti berikut ini:
JANTUNG anak muda berumur 22 tahun itu berdebar. Sebentar lagi ia akan bertatapan mata dengan Jenderal Pur. Sarwo Edhie, mantan Komandan Resimen Para Komando TNI Angkatan Darat (RPKAD) –kini Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Ia tahu siapa Sarwo Edhie dalam gemuruh aksi pengganyangan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965-1966 silam.
Tentu saja ia tahu setelah dewasa, karena saat tragedi berdarah itu ia masih berumur enam tahun. Kisah ini terjadi pada 1981. Dan anak muda itu adalah seorang di antara kader Wanadri, sebuah kelompok pencinta alam di Bandung.
Selaku inspektur upacara, Sarwo Edhie hendak melantik mereka yang lulus sebagai anggota Wanadri. Sarwo tahu bahwa seorang di antaranya adalah Ilham Aidit, putra Dipa Nusantara (DN) Aidit, gembong PKI.
Ilham berada di baris kedua, dan beberapa detik lagi gilirannya berhadapan langsung dengan Sarwo Edhie. Saat Sarwo menyalami dan menepuk bahu Ilham serta melihat namanya di kemeja di bagian dadanya, sejenak kemudian Sarwo memeluk Ilham.
“Selamat, kamu telah berhasil menyelesaikan pendidikan,” kata Sarwo. Dari 72 orang kader Wanadri, hanya Ilham yang dipeluk Sarwo. Hanya mereka berdua yang tahu apa makna pelukan itu.
Saya kira, peristiwa antara Sarwo dan Ilham adalah sejenis rekonsiliasi antara dua anak bangsa. Karena dengan nama Sarwo dan DN Aidit orang akan ingat tragedi Gerakan 30 September 1965 yang menewaskan beberapa jenderal TNI AD terbaik.
Orang akan ingat pengumuman Dewan Revolusi yang mengkudeta kepemimpinan Presiden Sukarno, tetapi kemudian berhasil diamankan oleh Jenderal Soeharto.
Sejak awal Orde Baru, publik diberi tahu bahwa dalang peristiwa itu adalah PKI, seperti versi pemerintah RI. Namun sejak era reformasi berbagai versi berseberangan bermunculan dan menambah pengetahuan publik tentang masa lalu yang hitam itu.
Tiga tahun kemudian, 1984, Ilham bertemu lagi dengan Sarwo Edhie. Wanadri kembali mendidik anggota baru. Kali ini Ilham sebagai komandan operasi dan Sarwo Edhie sebagai inspektur upacara.
Upacara dimulai pukul 07.00 WIB. Tapi pukul 06.00 WIB Sarwo sudah datang. Sarwo memanggil Ilham dan mengajaknya berjalan ke balik sebuah tebing di Kawah Upas, Gunung Tangkuban Perahu. Ilham gugup dalam pertemuan 10 menit itu.
Saat itu, Sarwo berkata bahwa dirinya hanya melaksanakan tugas dan kewajiban pada 1965 silam yang diyakininya benar. Tapi setelah peristiwa itu, kata Ilham, Sarwo sadar bahwa yang dilakukannya itu salah. Ilham terpana.
Sarwo mengulurkan tangan, dan tangan Ilham gemetar. Mereka bersalaman, dan berpelukan seperti tiga tahun silam.
Ilham masih ingat betapa suara Sarwo bergetar. Setelah itu, barulah ia menyadari betapa kabut pagi Kawah Upas yang hening sangatlah dingin. “Saya memahaminya. Dan saya bisa memaafkan. Itulah kejadian paling penting dalam hidup saya,” kata Ilham.
Sejak itu, Ilham makin sering bertemu dengan Sarwo Edhie. Selain sebagai anggota kehormatan Wanadri, Sarwo juga adalah narasumber dalam pelatihan untuk esprit the corps untuk kalangan Wanadri. “Saya makin mengerti beliau adalah seorang yang sangat setia kepada korps,” kata Ilham.
Kisah barusan tak banyak diketahui publik. Mungkin, hanya faktor Dewi Fortuna saja jika Ilham berkenan menceritakannya kepada majalah tempat saya bekerja, Medium yang tidak lagi terbit sejak awal 2006 lalu. Sebagian dari bahan dan catatan tersisa, saya tulis lagi mungkin siapa tahu ada gunanya.
Mengenang sejarah tentu penting, walaupun lebih penting lagi bagaimana menyelesaikan bengkalai sejarah itu, tanpa perlu menghujat kanan kiri.
Sikap yang mau benar sendiri hanya akan kontraproduktif terhadap ikhtiar rekonsiliasi yang dicoba dijelmakan dalam UU KKR (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi).
Sebelum pemilihan presiden putaran terakhir pada 2004 lalu, Ilham mengikuti silaturahmi yang digagas oleh dai kondang Aa Gym, dan bertemu dengan calon presiden Susilo “SBY” Bambang Yudhoyono.
Ilham datang bersama teman-temannya dari Forum Silaturrahmi Anak Bangsa (FSAB) yang terdiri dari anak-anak korban G-30-S, DI/TII, dan sebagainya.
Dalam pertemuan di pesantren Daarut Tauhiid di Gegerkalong Bandung itu, juga hadir mantan gubernur dan mantan Pangdam Silliwangi, Solichin GP. Saat itu, Solichin mengisahkan kembali peristiwa 1965-1966 di Jawa Barat. Walau dekat dengan Jakarta, korban di Jawa Barat tidak lebih dari 20 orang. Padahal jumlah korban sangat berjibun di Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan daerah lainnya.
Pangdam Siliwangi, Ibrahim Adjie ketika itu mengikuti instruksi dari Presiden Sukarno untuk tidak melakukan aksi pembantaian terhadap anggota PKI. Orang-orang PKI ditangkap tapi tak dibantai.
Ilham kala itu diungsikan ke Bandung dan menjadi murid SD Hidup Baru. Ia ingat kerap dihina temannya yang tahu ayahnya adalah DN Aidit. Saat masuk SMP Aloysius Bandung, ia sering berkelahi karena bapaknya dinista, dan Ilham selalu kalah. Masa SMA ia pindah ke SMA Kanisius Menteng Jakarta Pusat, dan kebetulah ibu asuhnya adalah sahabat baik istri Jenderal Abdul Haris Nasution.
Ia mulai sering diskusi dengan Ibu Nasution, dan mulai mengerti tak semua cerita tentang ayahnya benar. Sejak itu ia makin tegar menghadapi reaksi publik, hingga menjadi mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Parahyangan Bandung jurusan Arsitektur pada 1979 lalu.
Dalam pertemuan dua tahun silam itu di pesantren Aa Gym, Ilham membisiki SBY tentang pertemuannya dengan Sarwo pada 1981 dan 1984 silam. SBY memberi respons positif.
“Dengan tangannya yang besar, dia (SBY) memegang paha kiri saya dan dia bilang kita harus menyelesaikan masa lalu, namun dengan cara yang arif,” kata Ilham.
Ketika itu, SBY yang berbaju batik dan berpeci diapit oleh Aa Gym yang bersorban dan Ilham yang mengenakan kemeja lengan panjang.
Sekarang, Presiden SBY cenderung menebarkan ide perdamaian, baik dalam komentarnya tentang kasus Lebanon, Palestina maupun domestik. Pemerintahannya pun berhasil menunaikan perdamaian di Nanggroe Aceh Darussalam setelah Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ditandatangani di Helsinki, Finlandia. Jika SBY ikut dicalonkan sebagai penerima Nobel Perdamaian, akan semakin lengkap jika rekonsiliasi antar anak bangsa, termasuk masalah PKI bisa tunai dengan segera. Kita tak harus terus-terusan disandera masa lalu, sehingga tersendat dalam melangkah menuju masa depan.
Rekonsiliasi antar-pribadi sudah banyak berlangsung.
Sebelum menikahi Yuyun, Ilham memberi tahu calon mertuanya yang juga seorang prajurit TNI, bahwa ia adalah anak DN Aidit. Sang calon mertua kaget, dan diam seribu bahasa. Beberapa detik kemudian, sang calon mertua mengalah, dan merelakan Yuyun dinikahi Ilham.
Kasus G30S-1965, bukanlah kasus antar-personal. Tetapi masalah bangsa dan negara yang harus diselesaikan secara kenegaraan pula.■
Oleh: Bersihar Lubis
wartawan senior, tinggal di Medan
(Sumber: www.theglobal-review.com/content.detail.php?lang=) www.indiependen.com
Ben Anderson, G30S dan Cornell Paper
Pengantar Redaksi: Untuk liputan Fokus kali ini, Redaksi Indiependen mewawancarai Prof. Emeritus Benedict Anderson alias Soebeno alias Bargowo dari Cornell University, USA. Mengingat jawabannya utuh, maka Redaksi menyajikannya sebagai tulisan Ben “Subeno” Anderson alias Bargowo mengenai dirinya, G30S dan Cornell Paper. Berikut penuturannya lewat sajian yang khas.
HALO kawan2 di Tanah Air! Djawaban2 jang berikut ini, djangan terlalu pertjaja jah karena Cornell Paper (CP) itu usianja 45 tahun lebih, dan saja ada banjak memory-loss alias tanda kepikunan.
Ingat saja, sumber2 kami sebagian besar koran2, jang dikirim oleh agen Library of Congress ke Cornell dan itu makan waktu sekitar l bulan. Jang paling penting adalah koran2 daerah jang ketika itu misih ada jang kere2an, plus ada reportase lokal jang berlainan dari isu koran2 Djakarta. Plus ada FBIS, bulletin setengah ‘resia” jang isinja siaran2 radio dari ampir setiap Negara di dunia –produk NSA. FBIS artinja Foreign Broadcasting Information Service. Bulletin2 ini tjepat, dan walaupun setengah resia, kok hampir semua perpustakaan universitas jang berkaliber mendjadi langganan.
Kami tjuriga dari awal, karena tjepat sekali dapat siar2an Untung cs dari FBIS. Pertama: Dewan Revolusi jang diumumkan sama sekali nggak masuk akal, karena sebagian besar orang2nja bukan tokoh ngetop,… malahan ada beberapa orang jang djelas ‘kanan.’ Kedua: pengumuman bahwa semua orang jang berstatus Kolonel, Brig Djen, Maj Gen, Let Gen (dan equivalennja di ALRI dan AURI) akan dihilangkan pangkat. Ini kan gila – sekaligus membuat puluhan, malahan ratusan tentara senior musuh dari G30S. Kami jakin bahwa Aidit cs nggak mungkin bikin pengumuman2 jang aneh dan gila itu. Koran2 Djakarta pada bulan Okrtober penuh sesak dengan bo’ongan jang gampang diliat konjolnja. Kalo PKI mendjadi mastermind, bo’ongan2 ini tak perlu dimasukin koran2 tentara. Djelas ada ‘strategi’ membohongi masjarakat -djadi ada apa jang mau disembunjikan oleh Harto cs.
Di Cornell Modern Indonesia Project (CMIP) ketika itu, hanja 3 orang bule jang ada waktu untuk mendiskusikan apa jang terdjadi di Indonesia, plus fasih bahasa Indonesia dan ada pengalaman di Indonesia. Tentu seniornja Mbak Ruth (Ruth T. McVey, red), jang PhD selesai 2-3 tahun sebelumnja, dan belum mulai djadi professor. Djadi dia bebas 100%.
Saja sendiri masih tjoba2 menulis skripsi, (selesai baru pada bulan April 1967), plus saja harus mengadjar sebagai asisten Pak Kahin (George Mc Turnan Kahin, red). Fred Bunnell mendjadi jang paling junior. Belum bikin skripsi dan tidak mendjadi asisten. Selama bulan Oktober-November 1965 kami sama2 tjari informasi –dalam hal ini Fred dan Mbak Ruth paling radjin. Setelah itu, selama bulan Desember kami sudah sepakat bikin analisa sementara. Jang menulis hanja Mbak Ruuth dan saja. Karena top expert perkara PKI, dan berkenalan pribadi dengan tokoh2 top PKI. Mbak Ruth ditugaskan untuk menulis tentang mentalnja, karirnja, strategi politiknja dan lain2 –dimana kesimpulannja– nggak mungkin G30S mendjadi mastermind. Tugas saja adalah menulis narasi kedjadian2 selama awal tahun 65, prolog G30S, G30S orang2nja gimana, mulai pembantaian PKI. Fred mengatur tjakaran kaki. Pak Kahin sangat setudju dengan usaha kami, membatja naskah kami, dan mengurangi tugas2 saja.
Ketika naskah itu selesai, sekitar 6 Djanuari 66, kami sepakat bahwa karangan kami harus diresiakan, karena kami takut bahwa kawan2 kami di Indonesia dan di Cornell bisa tjelaka, mengingat suasana di Indonesia ketika itu. Tapi kami kirim eksemplar2nja kepada beberapa kolega –termasuk umpamanja Pak Wertheim, Pak Dan Lev– karena kami ingin komentar mereka, kritik djuga. Kepada orang2 ini kami bilang, naskah ini tak boleh disebut, tetapi info jang ada didalamnja boleh dipakai kalau mereka mau menulis tentang G30S. Tapi ternjata kami masih amatir2.
Pak Kahin, jang sibuk sekali melawan policy AS di Vietnam, dan sering ke Washington, pada suatu waktu mohon Mbak Ruth pergi ke Washington untuk tjerita tentang Cornell Paper dengan seorang kolumnis tersohor jang djuga sangat anti-Perang Vietnam. Si kolumnis inilah jang membotjorkan aktivitas kami. Sampai sekarang saja nggak tahu apakah dia memang bodoh (inosen) atawa tak peduli konsekwensi dari kolomnja. Tentunja birokrat2 di Deplu, CIA, Pentagon marah besar, dan skandal ini langsung dikasih tahu pada geng tentara di Djakarta.
Karena diketahui bahwa jang menulis CP itu misih graduate student, bukan professor, dan kami semua masih muda, ada strategi tentara untuk mendekati kami dengan kejakinan bahwa kami akan ngaku salah, dan achirnja akan menerima versi resmi. Pada summer 1967 dan 1968 saja masih diberikan visa untuk meneruskan membaiki skripsi saja jang achirnja diterbitkan sebagai buku pada tahun 1972. Tentunja saja harus hati2 sekali. Pak Kahin djuga kesono untuk melindungi saja dan Fred. Dia sering ketemu dengan djago2an militer dan sipil, dan selalu bilang pada mereka bahwa kami memang sangat muda, tetapi bukan orang2 jang ngotot. Ada kemungkinan kami akan merobah analisa kalau tentara sendiri memberikan dokumen2 penting, chususnja laporan2 stenografis dari Mahmilub.
Memang setelah itu ada delegasi besar (dua kali) Ali Murtopo, Benny Moer, dan grup jang pegang Mahmilub –setiap kali mereka memberikan fotokopi2 dari sidang Mahmilub. Djusteru di salah satu djilid saja ketemu laporan dari doktor2 ahli majat jang menganalisa luka2 pada badan djendral2 jang dibunuh oleh Tjakra pd 1 Oktober 65. Dokumen jang luar biasa masuk sebagai lampiran -Gila! Setelah membatja laporan itu, jang diarahkan langsung ke Harto, pada 5 Oktober 65, saja 100% jakin bahwa a) pembotjoran dokumen ini tidak dengan sengadja; b) membuktikan bahwa versi Tentara tentang G30S bo’ong melulu. Djendral2 dibunuh oleh tentara lain (ditembak), dan tidak ada penjiksaan apalagi mata dan konthol masing2 dipotong. Jah, tahun 1972 saja ditjekal.
Kemudian, Mbak Ruth pindah ke London, mendjadi prof di SOAS (School of Oriental and African Studies, red), sedangkan si Fred djuga djadi prof di Uni Vassar. Saja sendiri sangat sibuk sebagai prof muda jang belum dapat tenure, lagi pegang madjalah Indonesia, plus mulai bikin riset tentang Thailand, sambil beladjar bahasanja. Sebelum Mbak Ruth dan Fred pindah, kami radjin bikin arsip besar tentang tentara di Indonesia 1950-70, berdasarkan koran2 di pusat dan di daerah. Ini kami pakai untuk mengikuti riwajat, nasib, ideologi dari tentara, termasuk sedjarahnja sedjak revolusi. Karena itu kami bisa -setiap 1-2 tahun– untuk bikin analisa tentang perobahan personel dan pangkat di kalangan TNI. Arsip ini membuat Mbak Ruth bisa menelurkan dua naskah jang bagus tentang latar belakang grup Untung dan sekutu2nja, ditambah oleh hasil interviu2 dengan tentara, politisi, ex-tapol. Mbak Ruth dibiarkan masuk Indonesia, mungkin karena dia dianggep “tjuma tjewek” dan memang agak djarang menulis tentang politik di Indonesia. Fred djuga. Hanja saja jang dianggep monster, sebagian karena saja aktif perkara pendjadjahan TimTim sampai membikin kesaksian di Congress Amerika djuga di PBB. Tentunja makin lama makin ada informasi2 baru, tetapi tidak banjak.
Setelah 1995 arsip Deplu AS dan Inggris mulai diterbitkan, tetapi terasa sekali bahwa dokumen tentang 65-66 sudah ‘ditjutji” sebelumnja. Kalo analisa CP itu kan dikatakan sementara, dan kami mengaku bahwa ada banjak bagian jang kurang tepat. Pribadi saja, jah terbuka kalau ada sardjana2 jang lebih muda bikin buku bagus tentang G30S. Perobahan pendapat saja lama2 berobah dari “jakin” pada analisa CP kepada “agnostic.” Kalo CP mungkin lemah, tetapi nggak bo’ong, toh dibandingkan dengan versi2 Tentara (jang penuh manipulasi) masih nggak terlalu djelek.
Buat saja, misteri utama adalah Sjam. Siapa dia sebenarnja. Kami dapat bukti bahwa pada tahun 48 dia mendjadi pegawai aparat birokrasi Belanda di Banten (mata2 RI atawa pengchianat?). Pada tahun 1951 dia terbukti menjadi tokoh PSI. Djuga di Banten, Pada tahun 58 dia mendjadi intel di KMKB Djakarta/Siliwangi.
Dari anaknja Aidit jang masih anak SD pada tahun 65-an saja dapat konfirmasi bahwa Sjam sering ke rumah bokapnja, dan pada suatu waktu Aidit membawa anak sulungnja ke Bandung dengan mobilnja Sjam, dengan Sjam sebagai supir. Djadi saja jakin bahwa Aidit dan Sjam dekat, tetapi apakah Sjam itu sebenarnja double agent –mata2 PKI di kalangan tentara dan mata2 TNI di kalangan PKI atas? Ketika Sjam memberi kesaksian ketika Sudisman dimahmilubkan, saja sangat heran karena gaya ngomongnja begitu lain dari omongan2 saksi PKI jang lain. Stylenja ada bau retorika Awal Revolusi Pemuda, bukan stylenja seorang Komunis –malahan sangat mirip dengan style “Pemuda” dari Subadio, itu tokoh PSI. Nampak sekali egoismenja dan sombongnja. Saja selalu ingat interviu dengan Parman, jang pada tahun 64 mendjadi kepala intel militer. Semula dia mengira bahwa saja anak CIA, lantas bilang: Don’t worry! I have a top informer in the highest PKI circles, so that every decision they make, I get to know it within satu dua djam. Gilanja ketika Parman mendjadi kepala intel tentara, kakaknja Ir. Sakirman mendjadi anggota Politbiro PKI - chas Melayu, bukan?■ awd www.indiependen.com
HALO kawan2 di Tanah Air! Djawaban2 jang berikut ini, djangan terlalu pertjaja jah karena Cornell Paper (CP) itu usianja 45 tahun lebih, dan saja ada banjak memory-loss alias tanda kepikunan.
Ingat saja, sumber2 kami sebagian besar koran2, jang dikirim oleh agen Library of Congress ke Cornell dan itu makan waktu sekitar l bulan. Jang paling penting adalah koran2 daerah jang ketika itu misih ada jang kere2an, plus ada reportase lokal jang berlainan dari isu koran2 Djakarta. Plus ada FBIS, bulletin setengah ‘resia” jang isinja siaran2 radio dari ampir setiap Negara di dunia –produk NSA. FBIS artinja Foreign Broadcasting Information Service. Bulletin2 ini tjepat, dan walaupun setengah resia, kok hampir semua perpustakaan universitas jang berkaliber mendjadi langganan.
Kami tjuriga dari awal, karena tjepat sekali dapat siar2an Untung cs dari FBIS. Pertama: Dewan Revolusi jang diumumkan sama sekali nggak masuk akal, karena sebagian besar orang2nja bukan tokoh ngetop,… malahan ada beberapa orang jang djelas ‘kanan.’ Kedua: pengumuman bahwa semua orang jang berstatus Kolonel, Brig Djen, Maj Gen, Let Gen (dan equivalennja di ALRI dan AURI) akan dihilangkan pangkat. Ini kan gila – sekaligus membuat puluhan, malahan ratusan tentara senior musuh dari G30S. Kami jakin bahwa Aidit cs nggak mungkin bikin pengumuman2 jang aneh dan gila itu. Koran2 Djakarta pada bulan Okrtober penuh sesak dengan bo’ongan jang gampang diliat konjolnja. Kalo PKI mendjadi mastermind, bo’ongan2 ini tak perlu dimasukin koran2 tentara. Djelas ada ‘strategi’ membohongi masjarakat -djadi ada apa jang mau disembunjikan oleh Harto cs.
Di Cornell Modern Indonesia Project (CMIP) ketika itu, hanja 3 orang bule jang ada waktu untuk mendiskusikan apa jang terdjadi di Indonesia, plus fasih bahasa Indonesia dan ada pengalaman di Indonesia. Tentu seniornja Mbak Ruth (Ruth T. McVey, red), jang PhD selesai 2-3 tahun sebelumnja, dan belum mulai djadi professor. Djadi dia bebas 100%.
Saja sendiri masih tjoba2 menulis skripsi, (selesai baru pada bulan April 1967), plus saja harus mengadjar sebagai asisten Pak Kahin (George Mc Turnan Kahin, red). Fred Bunnell mendjadi jang paling junior. Belum bikin skripsi dan tidak mendjadi asisten. Selama bulan Oktober-November 1965 kami sama2 tjari informasi –dalam hal ini Fred dan Mbak Ruth paling radjin. Setelah itu, selama bulan Desember kami sudah sepakat bikin analisa sementara. Jang menulis hanja Mbak Ruuth dan saja. Karena top expert perkara PKI, dan berkenalan pribadi dengan tokoh2 top PKI. Mbak Ruth ditugaskan untuk menulis tentang mentalnja, karirnja, strategi politiknja dan lain2 –dimana kesimpulannja– nggak mungkin G30S mendjadi mastermind. Tugas saja adalah menulis narasi kedjadian2 selama awal tahun 65, prolog G30S, G30S orang2nja gimana, mulai pembantaian PKI. Fred mengatur tjakaran kaki. Pak Kahin sangat setudju dengan usaha kami, membatja naskah kami, dan mengurangi tugas2 saja.
Ketika naskah itu selesai, sekitar 6 Djanuari 66, kami sepakat bahwa karangan kami harus diresiakan, karena kami takut bahwa kawan2 kami di Indonesia dan di Cornell bisa tjelaka, mengingat suasana di Indonesia ketika itu. Tapi kami kirim eksemplar2nja kepada beberapa kolega –termasuk umpamanja Pak Wertheim, Pak Dan Lev– karena kami ingin komentar mereka, kritik djuga. Kepada orang2 ini kami bilang, naskah ini tak boleh disebut, tetapi info jang ada didalamnja boleh dipakai kalau mereka mau menulis tentang G30S. Tapi ternjata kami masih amatir2.
Pak Kahin, jang sibuk sekali melawan policy AS di Vietnam, dan sering ke Washington, pada suatu waktu mohon Mbak Ruth pergi ke Washington untuk tjerita tentang Cornell Paper dengan seorang kolumnis tersohor jang djuga sangat anti-Perang Vietnam. Si kolumnis inilah jang membotjorkan aktivitas kami. Sampai sekarang saja nggak tahu apakah dia memang bodoh (inosen) atawa tak peduli konsekwensi dari kolomnja. Tentunja birokrat2 di Deplu, CIA, Pentagon marah besar, dan skandal ini langsung dikasih tahu pada geng tentara di Djakarta.
Karena diketahui bahwa jang menulis CP itu misih graduate student, bukan professor, dan kami semua masih muda, ada strategi tentara untuk mendekati kami dengan kejakinan bahwa kami akan ngaku salah, dan achirnja akan menerima versi resmi. Pada summer 1967 dan 1968 saja masih diberikan visa untuk meneruskan membaiki skripsi saja jang achirnja diterbitkan sebagai buku pada tahun 1972. Tentunja saja harus hati2 sekali. Pak Kahin djuga kesono untuk melindungi saja dan Fred. Dia sering ketemu dengan djago2an militer dan sipil, dan selalu bilang pada mereka bahwa kami memang sangat muda, tetapi bukan orang2 jang ngotot. Ada kemungkinan kami akan merobah analisa kalau tentara sendiri memberikan dokumen2 penting, chususnja laporan2 stenografis dari Mahmilub.
Memang setelah itu ada delegasi besar (dua kali) Ali Murtopo, Benny Moer, dan grup jang pegang Mahmilub –setiap kali mereka memberikan fotokopi2 dari sidang Mahmilub. Djusteru di salah satu djilid saja ketemu laporan dari doktor2 ahli majat jang menganalisa luka2 pada badan djendral2 jang dibunuh oleh Tjakra pd 1 Oktober 65. Dokumen jang luar biasa masuk sebagai lampiran -Gila! Setelah membatja laporan itu, jang diarahkan langsung ke Harto, pada 5 Oktober 65, saja 100% jakin bahwa a) pembotjoran dokumen ini tidak dengan sengadja; b) membuktikan bahwa versi Tentara tentang G30S bo’ong melulu. Djendral2 dibunuh oleh tentara lain (ditembak), dan tidak ada penjiksaan apalagi mata dan konthol masing2 dipotong. Jah, tahun 1972 saja ditjekal.
Kemudian, Mbak Ruth pindah ke London, mendjadi prof di SOAS (School of Oriental and African Studies, red), sedangkan si Fred djuga djadi prof di Uni Vassar. Saja sendiri sangat sibuk sebagai prof muda jang belum dapat tenure, lagi pegang madjalah Indonesia, plus mulai bikin riset tentang Thailand, sambil beladjar bahasanja. Sebelum Mbak Ruth dan Fred pindah, kami radjin bikin arsip besar tentang tentara di Indonesia 1950-70, berdasarkan koran2 di pusat dan di daerah. Ini kami pakai untuk mengikuti riwajat, nasib, ideologi dari tentara, termasuk sedjarahnja sedjak revolusi. Karena itu kami bisa -setiap 1-2 tahun– untuk bikin analisa tentang perobahan personel dan pangkat di kalangan TNI. Arsip ini membuat Mbak Ruth bisa menelurkan dua naskah jang bagus tentang latar belakang grup Untung dan sekutu2nja, ditambah oleh hasil interviu2 dengan tentara, politisi, ex-tapol. Mbak Ruth dibiarkan masuk Indonesia, mungkin karena dia dianggep “tjuma tjewek” dan memang agak djarang menulis tentang politik di Indonesia. Fred djuga. Hanja saja jang dianggep monster, sebagian karena saja aktif perkara pendjadjahan TimTim sampai membikin kesaksian di Congress Amerika djuga di PBB. Tentunja makin lama makin ada informasi2 baru, tetapi tidak banjak.
Setelah 1995 arsip Deplu AS dan Inggris mulai diterbitkan, tetapi terasa sekali bahwa dokumen tentang 65-66 sudah ‘ditjutji” sebelumnja. Kalo analisa CP itu kan dikatakan sementara, dan kami mengaku bahwa ada banjak bagian jang kurang tepat. Pribadi saja, jah terbuka kalau ada sardjana2 jang lebih muda bikin buku bagus tentang G30S. Perobahan pendapat saja lama2 berobah dari “jakin” pada analisa CP kepada “agnostic.” Kalo CP mungkin lemah, tetapi nggak bo’ong, toh dibandingkan dengan versi2 Tentara (jang penuh manipulasi) masih nggak terlalu djelek.
Buat saja, misteri utama adalah Sjam. Siapa dia sebenarnja. Kami dapat bukti bahwa pada tahun 48 dia mendjadi pegawai aparat birokrasi Belanda di Banten (mata2 RI atawa pengchianat?). Pada tahun 1951 dia terbukti menjadi tokoh PSI. Djuga di Banten, Pada tahun 58 dia mendjadi intel di KMKB Djakarta/Siliwangi.
Dari anaknja Aidit jang masih anak SD pada tahun 65-an saja dapat konfirmasi bahwa Sjam sering ke rumah bokapnja, dan pada suatu waktu Aidit membawa anak sulungnja ke Bandung dengan mobilnja Sjam, dengan Sjam sebagai supir. Djadi saja jakin bahwa Aidit dan Sjam dekat, tetapi apakah Sjam itu sebenarnja double agent –mata2 PKI di kalangan tentara dan mata2 TNI di kalangan PKI atas? Ketika Sjam memberi kesaksian ketika Sudisman dimahmilubkan, saja sangat heran karena gaya ngomongnja begitu lain dari omongan2 saksi PKI jang lain. Stylenja ada bau retorika Awal Revolusi Pemuda, bukan stylenja seorang Komunis –malahan sangat mirip dengan style “Pemuda” dari Subadio, itu tokoh PSI. Nampak sekali egoismenja dan sombongnja. Saja selalu ingat interviu dengan Parman, jang pada tahun 64 mendjadi kepala intel militer. Semula dia mengira bahwa saja anak CIA, lantas bilang: Don’t worry! I have a top informer in the highest PKI circles, so that every decision they make, I get to know it within satu dua djam. Gilanja ketika Parman mendjadi kepala intel tentara, kakaknja Ir. Sakirman mendjadi anggota Politbiro PKI - chas Melayu, bukan?■ awd www.indiependen.com
Kebangkitan Nasionalis dalam Pemuda Demokrat Indonesia 1947
JAKARTA – Pemuda Demokrat Indonesia 1947 menggelar acara Silahturahmi dan Halal Bihalal di Aula Komisi Yudisial (KY), Jalan Kramat Raya, Jumat, 14 September 2012. Ratusan kader, simpatisan dan tamu menghadiri acara yang berlangsung pada pukul 19.00 WIB dengan mengangkat tema “Pemuda Demokrat Indonesia 1947 Siap Mempelopori Kebangkitan Nasionalis Indonesia.” Tentu bukan tanpa alasan tema tersebut diangkat oleh Ormas ini, di tengah lunturnya semangat dan spirit Nasionalisme. “Kita adalah anak kandung dari proses perjuangan Bung Karno. Saya ingatkan, kader-kader Pemuda Demokrat Indonesia 1947 ada untuk selalu memperjuangankan paham-paham aliran nasionalisme,” kata Edwin Hernawan Soekowati. Pemuda Demokrat Indonesia 1947 adalah independen dan mempunyai ciri khas mengamankan pancasila, UUD 1945 dan NKRI seperti yang diajarkan para Pendiri Bangsa, demikian ditambahkan Edwin yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Pemuda Demokrat Indonesia 1947.
Edwin juga mengingatkan, agar tetap berjuang dengan menjunjung tinggi Pancasila sebagai dasar negara. Edwin mencontohkan yang terjadi pada pegamalan sila-sila dan Pancasila khususnya sila keempat. Dia mengatakan, sila pertama, kedua, ketiga dan kelima penerapannya sudah baik, namun harus ditingkatkan.“Sila keempat sudah tidak dijalankan dengan baik di negara ini, juga oleh kita semua. Kita menganut musyawarah mufakat, tapi kita sekarang sudah menganut sistem bebas, pemilihan langsung. Ini demokrasi liberal yang menurut Bung Karno sebagai demokrasi ecek-ecek. Tapi, sekarang sudah dibuat sedemikian rupa, mau tidak mau kita ikut sistem yang mainstream tidak Pancasilais,” katanya.
“Indonesia saat ini berada dalam cengkeram dan sulit lepas dari jeratan liberalisme dengan ciri tidak berdaulat di negeri sendiri. Paham Kapitalisme dibiarkan masuk ke Indonesia berkolaborasi dengan pejabat menghasilkan pengusaha yang Neokolonialisme,” kata Sirra Prayuna. Ketua Umum DPP ini menerangkan bahwa, matinya industri kecil dan menengah yang merupakan soko guru ekonomi rakyat, merupakan gambaran nyata dari tidak berdayanya negeri yang kaya dan tercinta ini saat menghadapi hempasan neoliberalisme dan neokolonialisme.
“Pemuda Demokrat Indonesia 1947 adalah organisasi independen, plural, dan terdiri dari berbagai latar belakang. Kami tidak ingin masuk faksional kekuasaan, Ormas ini merupakan garda terdepan untuk memelopori kembali Nasionalisme itu. Jangan sampai kita tersandera sistem dan liberalisasi,” tambah Sirra.
Terkait dengan Pemilukada DKI Jakarta, Sirra menegaskan, siapapun pemenang nanti haruslah pemimpin yang Nasionalis, pemimpin yang pro-rakyat. Pemimpin yang baik juga haruslah mengenyampingkan kepentingan pragmatis, sederhana, jujur dan selalu berusaha untuk membangun dan mensejahterakan rakyat.
Pemuda Demokrat Indonesia didirikan pada tanggal 31 Mei 1947, didirikan oleh tokoh para tokoh Nasionalis, seperti Isnaeni dan Soebagyo Reksodipuro. Saat itu, secara resmi mereka terafiliasi dengan Partai Nasionalis Indonesia (PNI). Pada tahun 1962, nama organisasi diubah menjadi Pemuda Marhaenis. Krisis dan kisruh politik tahun 1965 terjadi perpecahan di internal Pemuda Marhaenis dan menjadi masa suramnya. Kegiatan vakum hingga tahun 1973, selanjutnya dibentuk kepengurusan baru Pemuda Marhaenis. Medio tahun 2002 ormas ini mengadakan Kongres dan melakukan perubahan keorganisasian, lalu mengangkat Haryanto Taslam sebagai Ketua Umum, dan Ribka Tjiptaning sebagai Sekjen. (Nasionalis)
JAKARTA – Pemuda Demokrat Indonesia 1947 menggelar acara Silahturahmi dan Halal Bihalal di Aula Komisi Yudisial (KY), Jalan Kramat Raya, Jumat, 14 September 2012. Ratusan kader, simpatisan dan tamu menghadiri acara yang berlangsung pada pukul 19.00 WIB dengan mengangkat tema “Pemuda Demokrat Indonesia 1947 Siap Mempelopori Kebangkitan Nasionalis Indonesia.” Tentu bukan tanpa alasan tema tersebut diangkat oleh Ormas ini, di tengah lunturnya semangat dan spirit Nasionalisme. “Kita adalah anak kandung dari proses perjuangan Bung Karno. Saya ingatkan, kader-kader Pemuda Demokrat Indonesia 1947 ada untuk selalu memperjuangankan paham-paham aliran nasionalisme,” kata Edwin Hernawan Soekowati. Pemuda Demokrat Indonesia 1947 adalah independen dan mempunyai ciri khas mengamankan pancasila, UUD 1945 dan NKRI seperti yang diajarkan para Pendiri Bangsa, demikian ditambahkan Edwin yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Pemuda Demokrat Indonesia 1947.
Edwin juga mengingatkan, agar tetap berjuang dengan menjunjung tinggi Pancasila sebagai dasar negara. Edwin mencontohkan yang terjadi pada pegamalan sila-sila dan Pancasila khususnya sila keempat. Dia mengatakan, sila pertama, kedua, ketiga dan kelima penerapannya sudah baik, namun harus ditingkatkan.“Sila keempat sudah tidak dijalankan dengan baik di negara ini, juga oleh kita semua. Kita menganut musyawarah mufakat, tapi kita sekarang sudah menganut sistem bebas, pemilihan langsung. Ini demokrasi liberal yang menurut Bung Karno sebagai demokrasi ecek-ecek. Tapi, sekarang sudah dibuat sedemikian rupa, mau tidak mau kita ikut sistem yang mainstream tidak Pancasilais,” katanya.
“Indonesia saat ini berada dalam cengkeram dan sulit lepas dari jeratan liberalisme dengan ciri tidak berdaulat di negeri sendiri. Paham Kapitalisme dibiarkan masuk ke Indonesia berkolaborasi dengan pejabat menghasilkan pengusaha yang Neokolonialisme,” kata Sirra Prayuna. Ketua Umum DPP ini menerangkan bahwa, matinya industri kecil dan menengah yang merupakan soko guru ekonomi rakyat, merupakan gambaran nyata dari tidak berdayanya negeri yang kaya dan tercinta ini saat menghadapi hempasan neoliberalisme dan neokolonialisme.
“Pemuda Demokrat Indonesia 1947 adalah organisasi independen, plural, dan terdiri dari berbagai latar belakang. Kami tidak ingin masuk faksional kekuasaan, Ormas ini merupakan garda terdepan untuk memelopori kembali Nasionalisme itu. Jangan sampai kita tersandera sistem dan liberalisasi,” tambah Sirra.
Terkait dengan Pemilukada DKI Jakarta, Sirra menegaskan, siapapun pemenang nanti haruslah pemimpin yang Nasionalis, pemimpin yang pro-rakyat. Pemimpin yang baik juga haruslah mengenyampingkan kepentingan pragmatis, sederhana, jujur dan selalu berusaha untuk membangun dan mensejahterakan rakyat.
Pemuda Demokrat Indonesia didirikan pada tanggal 31 Mei 1947, didirikan oleh tokoh para tokoh Nasionalis, seperti Isnaeni dan Soebagyo Reksodipuro. Saat itu, secara resmi mereka terafiliasi dengan Partai Nasionalis Indonesia (PNI). Pada tahun 1962, nama organisasi diubah menjadi Pemuda Marhaenis. Krisis dan kisruh politik tahun 1965 terjadi perpecahan di internal Pemuda Marhaenis dan menjadi masa suramnya. Kegiatan vakum hingga tahun 1973, selanjutnya dibentuk kepengurusan baru Pemuda Marhaenis. Medio tahun 2002 ormas ini mengadakan Kongres dan melakukan perubahan keorganisasian, lalu mengangkat Haryanto Taslam sebagai Ketua Umum, dan Ribka Tjiptaning sebagai Sekjen. (Nasionalis)
Label:
Berita
Pemuda Demokrat Prihatin dengan Pancasila yang Dikesampingkan
Pemuda Demokrat atau yang biasa dikenal Pemuda Marhaenis Kota Yogyakarta merasa prihatin karena ideologi Pancasila kini semakin dikesampingkan.
Hal itu diungkapkan Pengurus DPC Pemuda Demokrat Kota Yogyakarta, Agus Wahyu Sukoco, dalam acara halal bi halal Pemuda Demokrat, di kediaman salah satu pelopor organisasi tersebut di Kuwarasan Gamping Sleman, Sabtu (8/9).
Agus menegaskan, ideologi pancasila hingga saat ini justru semakin luruh. Banyak pejabat di pemerintahan tidak berpijak pada pemahaman ideologi pancasila.
Hal itu mengakibatkan pelaksanaan pemerintah tidak berjalan sesuai harapan. Menurutnya, bahkan para wakil rakyat di legislatif juga tidak melaksanakan amanat dalam pancasila itu. Akibatnya, masyarakat kerap menjadi kaum yang dirugikan atas kebijakan yang dibuat pemerintah.
"Kami bicara secara umum tentang Pancasila. Kami ingin sebarkan lagi ideologi bangsa ini. Acara halal bi halal ini menjadi kesempatan kami untuk diskusi," ungkap Agus, Sabtu (8/9/2012).
Dalam acara halal bi halal tersebut, setidaknya hadir 50 perwakilan DPC Pemuda Demokrat seluruh DIY.
Selain syawalan, acara diskusi tentang pancasila menjadi greget tersendiri dalam pertemuan rutin per tahun itu. Gerakan pemuda yang lahir sejak 1947 tersebut juga merasa prihatin karena selama ini nama pemuda demokrat kerap dikait-kaitkan dengan nama partai.
Padahal, menurut Agus, Pemuda Demokrat sama juga dengan Pemuda Marhaens. "Pemuda Demokrat tidak terikat partai manapun. Pemuda Demokrat bebas," ungkapnya. (tribunjogja.com)
Label:
Berita
Syawalan Pemuda Demokrat DIY
Luar biasa! Itulah satu kata yang bisa diucapkan saat acara
Syawalan Pemuda Demokrat Daerah Istimewa Yogyakarta pada hari Sabtu tanggal 8
September 2012 di rumah Wihan Padmanto,
SE, Kwarasan Sleman.
Betapa tidak, suatu persatuan yang pada tahun 1998 bak
sarang lebah ditebas habis, bahkan yang
tadinya bersahabat menjadi saling bermusuhan dan tak kenal lagi, tetapi pada
hari ini “lebah-lebah” tersebut berkumpul kembali saling berjabat erat. Cukup
menyentuh.
Saat ini, tidak ada lagi kata aku atau kamu, yang ada hanya
kita. Ada kekuatan yang menyatukan, meskipun di luar ini masing-masing kita
punya komunitas dan kepentingan lain. Dan saat kita kembali ke rumah Pemuda
Demokrat berbagai kepentingan-kepentingan tidak timbul.
Kaitannya dengan situasi terkini, saat ini kita sudah
dikapling-kapling sehingga kita tak berwenang mengatur milik kita sendiri. Lalu
apa arti kata merdeka yang setiap tahun kita peringati? Kita mati-matian
menentang UU Sisdiknas. Mau jadi apa
generasi kita jika anak-anak kita dididik dengan cara-cara negara lain?
Itulah sedikit tulisan tentang hikmah syawalan yang bisa
dipetik dengan tausyiah Yos Sutiyoso dan Bitus Iswanto. Hendaknya jangan sampai
kita bisa dipisahkan hanya karena kepentingan sesaat.
Label:
Berita
Syawalan Keluarga Besar Marhaenis
Desak Ajaran Bung Karno Dihidupkan Lagi
YOGYA - Semangat Pancasila sebagai
satu-satunya landasan kehidupan berbangsa saat ini mulai tergerus arus
globalisasi sehingga perlu menghidupkan kembali ajaran Bung Karno.
Hal tersebut dikatatan Ketua Dewan Pengurus Pusat Keluarga Besar Marhaenis (KBM), Prof Dr Sudigdo Adi. Menurutnya ajaran Soekarno tersebut tercermin dalam nilai Pancasila. Dalam proses internalisasi ideologi, kini tengah mengalami masa transisi.
"Jika dulu orang itu mendengar langsung ajaran Soekarno, tetapi saat ini orang hanya membaca ajarannya," terangnya di sela acara syawalan Keluarga Besar Marhaenis se-DIY di STPMD APMD Yogyakarta, Minggu (16/9).
Syawalan tersebut dihadiri oleh ratusan anggota KBM serta elemen-elemen ideologis seperti Paguyuban Alumni GMNI. Selain sebagai wahana silaturahmi, syawalan ini juga untuk menumbuhkan kembali semangat ajaran Soekarno. Penceramah syawalan diisi oleh KH Muhammad Malik AH, Pengasuh Ponpes Nidaaul Jannah Gamping Sleman. (M-6) (KRjogja.com)
Hal tersebut dikatatan Ketua Dewan Pengurus Pusat Keluarga Besar Marhaenis (KBM), Prof Dr Sudigdo Adi. Menurutnya ajaran Soekarno tersebut tercermin dalam nilai Pancasila. Dalam proses internalisasi ideologi, kini tengah mengalami masa transisi.
"Jika dulu orang itu mendengar langsung ajaran Soekarno, tetapi saat ini orang hanya membaca ajarannya," terangnya di sela acara syawalan Keluarga Besar Marhaenis se-DIY di STPMD APMD Yogyakarta, Minggu (16/9).
Syawalan tersebut dihadiri oleh ratusan anggota KBM serta elemen-elemen ideologis seperti Paguyuban Alumni GMNI. Selain sebagai wahana silaturahmi, syawalan ini juga untuk menumbuhkan kembali semangat ajaran Soekarno. Penceramah syawalan diisi oleh KH Muhammad Malik AH, Pengasuh Ponpes Nidaaul Jannah Gamping Sleman. (M-6) (KRjogja.com)
Label:
Berita






